RSS

Minggu, 24 Januari 2010

Mahasiswa untuk Bunda

Masih kuingat jelas malam itu, Bunda telah selesai shalat Isya, kemudian duduk dengan masih mengenakan telakung-nya. Kuhampiri beliau, “Bundaku, suatu saat nanti aku akan jadi mahasiswa” ucapku pelan. Bunda menatapku tersenyum, Sesuai dengan keinginanku. “Kalau begitu belajarlah yang rajin, Bunda akan bangga dan menunggu waktu itu terjadi”. Seketika itu juga aku bersemangat, kucanangkan cita-cita hidupku untuk menjadi mahasiswa. bukan untuk apa-apa, hanya untuk membuat bundaku bahagia.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Siang hari itu, Bu Yan datang kerumah. Layaknya biasa, mencari ibuku, bekas guru anaknya, untuk menumpahkan hatinya. seperti biasa juga, masih dengan sandal jepit dan tas tangan kecilnya. satu hal yang sangat ganjil dan tidak biasanya. Bu Yan datang dengan senyum terkembang sampai menampakkan gerahamnya yang ompong. Dengan kelupaan mengucapkan salam dia melompat masuk ke dalam dan serta merta memelukku. Aku ikut tertawa senang kendati belum tahu ada apa. “Bundamu mana?” tanyanya. Aku menggeleng seraya mengatakan bahwa belum pulang dari sekolahnya. Dia mengangguk, dan bilang dia akan menunggu. tapi tangannya tak henti-henti mengusap-usap kepalaku. Tidak suka dibegitukan, kepala kecilku bergerak-gerak seraya menghindar. Bu Yan makin keras tertawa.

Aku mengenal Bu Yan sudah lama, dia adalah teman ibuku, yang paling suka mengusap-usap kepalaku. biasanya Bu Yan datang ke rumah untuk bercerita kepada Ibuku. banyak macam yang mereka bicarakan. tapi sepertinya semuanya tentang kesedihan. Aku tidak tahu banyak, tapi biasanya tidak jauh dari uang sekolah anaknya, dagangannya yang tak laku, hutangnya yang melilit, dan juga tentang keluarganya. Sering aku melihat Bu Yan menangis didepan bunda. Melihat gelagat seperti itu, biasanya bunda akan segera menyuruhku main keluar. Jadi,.. kalau Bu Yan datang, aku harus segera main keluar. Itulah kenapa aku tak suka Bu Yan, meski aku mengasihinya.

Tapi siang ini Bu Yan tidak seperti itu, Ia masuk bagaikan terbang, tertawa bagaikan tidak ada esok hari, dan mulutnya menganga bagaikan singa. Harusnya... aku harus segera keluar untuk bermain, ada janji bermain bola melawan anak RT sebelah. Tapi niat ini kuurungkan, kuingin tahu perihal alasannya Bu Yan bisa sebegitu senangnya. Untuk mengisi waktu, aku membuka buku. Niatnya mau bikin PR Matematika. Tapi juga urung terlaksana, Bu Yan selalu mengangguku. Dia mengangguku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti Bunda masih lama tidak? Sekolah gimana? Masih juara kelas apa tidak? Plus hentakan-hentakan kaki berikut nada gembira yang . Aku pasrah. Akhirnya yang bisa kulakukan sama persis seperti seperti wanita paru baya disebelahku. Duduk menghadap pintu, dengan harapan Bunda segera datang.

Setelah Bunda datang, Bu Yan meledak tangisnya. Bundaku terkejut, tapi tak lama ia tersenyum. Tentu orang dewasa sepertinya bisa melihat tangisnya itu bukan kesedihan. Tapi aku tak suka adegan ini karena terlalu lama, otakku sudah berontak. Aku menatap Bunda tajam seolah ingin menyampaikan pesan “Cepat Bunda, tanyakan ada apa. Cepat Bunda!” Aku tak sabar lagi. Ingin rasanya untuk mengatakan yang terpikir. Tapi aku takut disuruh keluar bermain oleh Bunda, kali ini kuingin tahu ini tentang apa.

Akhirnya saat yang dinanti datang juga. Bunda mengajak Bu Yan duduk. Akan tetapi ternyata jawaban yang kunanti dengan segenap kesebaran itu hal yang biasa. Tidak masuk akal malah. Gugur sudah semua pradugaku, bukan tentang kerbaunya yang tempo hari mau dijual untuk bayar hutang, bukan juga tentang panen cabenya, dan bahkan khayalan terliarku juga tidak. Bu Yan tidak menemukan sepeti uang dolar seperti di film semalam.

Masalahnya sederhana, anak Bu Yan yang paling tua, Bang Nor namanya, namanya masuk Koran. Aku bingung, kemarin juga Bang Iwan namanya masuk Koran, tapi Ibunya malah mencak-mencak karena anaknya ternyata anaknya ikut maling kerbau tempo hari. Penjelasan berikutnya membuatku lebih bingung, Bang Iwan menjadi mahasiswa dan berikutnya harus tinggal di Ibukota provinsi yang letaknya tidak kurang 200 km dari sini. Lah… berpisah dengan anak kok, Bu Yan senang? Dan lagi pula apa itu mahasiswa? Dengan merungut-rungut karena harapanku akan sesuatu yang ‘wah’ tidak tercapai, aku keluar rumah bermain bola. Tapi satu hal yang kutahu pasti, Bu Yan sangat senang Bang Nor menjadi mahasiswa.


Setelah mengaji di Musholla seusai Maghrib, menjelang azan Isya’ aku bertanya kepada ustadzku, Pak Edi namanya, tentang apa itu mahasiswa. Sengaja kubertanya pada beliau karena dia adalah guru idolaku, dan juga suaranya cukup aktif dan didengarkan dalam diskusi-diskusi di Lepau. Jawaban darinya sangat panjang dan sangat lebar. Aku mendengarkan dengan seksama untuk menghormati beliau, tapi ternyata, bagian yang kumengerti hanya bahwa setelah SMA, kita bisa meneruskan ke universitas dan menjadi mahasiswa. Dan untuk itu, diadakan tes ketat. Hanya murid yang pintar yang bisa menjadi mahasiswa.

Aku menjadi mahfum, Bu Yan pasti begitu bangga anaknya murid yang pintar. Aku bertanya juga dalam hati, apakah aku juga bisa menjadi mahasiswa dan membuat Bunda bahagia seperti Bu Yan? “Kamu juga pasti bisa Nak, jadi mahasiswa” ucap Pak Edi lembut seolah mengerti pikiranku. “Belajarlah yang rajin, jadilah anak yang pintar, masa depan negara ini ditanganmu.” Tegasnya dengan sangat bijak. Mendengarnya aku menjadi bersemangat, demi membuat Bunda bahagia aku bercita-cita untuk menjadi mahasiswa. Setelah Isya, malam itu juga, kuutarakan keinginanku pada Bunda


Sekarang, aku ada disini menatap rumah tinggi yang pernah kulihat dulu di brosur ketika SMA. Kemarin aku datang kesini, menyeberang laut dari tanah asalku, dan kemarin juga aku baru bisa melihat langsung gedung-gedung tinggi yang selama ini hanya bisa dilhat di TV. tapi gedung-gedung dan rumah ini terasa tidak penting lagi. Aku hanya bisa terduduk di tangga, lututku terasa lemah dan mataku terasa panas.

Bunda berdiri disebelahku, matanya sembab, baru saja menangis. Tapi Bundaku wanita yang tegar. Beliau tidak pernah menangis sejak Ayah dipanggil Tuhan 7 tahun yang lalu. Paling Bunda hanya menitikkan air mata, tidak menangis, seperti ketika melihat Koran yang kutunjukkan pada Bunda seminggu yang lalu. Bunda meneteskan air mata bahagia, persis seperti Bu Yan dulu, persis seperti yang kucita-citakan dulu. Dan air mata tangisan Bunda baru saja, bukanlah harapanku. Mataku panas memerah, tidak menangis. Aku marah dan kecewa! Bukan ini yang kuinginkan.

Kami baru saja keluar dari ruangan wawancara, beberapa menit yang lalu kami masuk dengan harapan segudang. Kami memakai pakaian terbaik yang kami miliki. Tapi tetap saja, sandal ibuku merasa risih dengan porselen yang licin berkilat, dan celana bahanku merasa rendah diri dengan kursi yang kami duduki. Wawancaranya tidak berjalan lancar. Karena selain kami belum fasih berbahasa Indonesia, kami juga merasa rendah diri dengan bapak berkepala licin dan jarang tersenyum didepan kami. Bunda hanya bisa mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suami dan kami tidak mempunyai uang. Dan aku mencoba menjelaskan hal lainnya. Ketika Bapak itu mengatakan kami hanya mendapat penangguhan pembayaran, Bunda meledak tangisnya. Bapak itu juga kebingungan, tapi seperti sudah biasa. “Memang sudah begitu kebijakannya” dia mengucapkan kata pamungkas.

Kami berangkat kesini dengan menjual kambing-kambing peliharan adikku plus pinjaman ibuku. Dengan itu pula aku harus bisa mencari tempat tinggal. Kakakku sekarang sedang berusaha menjualkan sawah peninggalan ayah yang biasanya kami kuli-kan. Dan uangnya mungkin akan membayar penangguhan ini, tapi pasti tidak akan cukup. Sampai saat ini aku belum bisa berpikir bagaimana kedepannya nasibku jika bertahan disini. Tapi mungkin Bunda telah memikirkan lebih jauh dariku.
Aku masih duduk, menatap rumah-rumah tinggi ini. Masih marah dan kecewa. Tidak hanya terhadap Bapak tadi, tapi juga pada diriku sendiri dan Pak Edi. Mungkin Pak Edi lupa menceritakan kepadaku yang masih kecil bahwa untuk menjadi mahasiswa sangat mahal sekali. Dan negara yang dia sebut mengharapkan murid pintar ternyata hanya ingin menerima bersih, buktinya peraturannya seperti tadi. Aku juga kecewa pada diriku sendiri, mangapa waktu itu aku terlalu cepat meninggalkan Bu Yan dan Bundaku. Karena dengan pemahamanku sekarang, aku tahu mereka pasti akan membicarakan keuangan.
Aku menatap Bundaku, beliau menatap lurus, tenang meski masih terisak sesekali. Aku tahu pasti dari romannya dia bahagia bisa mengantarkanku kesini, dan segera setelah ini aku resmi menjadi mahasiswa universitas di seberang laut. Tapi aku maklum akan satu hal, “Membuat Ibu bahagia ternyata sangat mahal”. Aku meneteskan air mata. Entah kebahagiaankah ini karena membuat Bundaku bangga, ataukah kesedihan karena membebani Bunda dengan biaya yang membuatnya menangis. Aku bingung, tapi kali ini tak bisa bertanya.-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar